Minggu, 28 April 2013

tugas 3

Saat ini telah ditemukan teknologi kesehatan baru dr jerman, dg menggunakan teknologi resonansi nano bagian terkecil dr atom Biodisc ditemukan oleh dr.ian lyons, dg penelitian yg dilakukan selema 25 tahun belum memproduksi Biodisc. Biodisc dapat mengeluarkan energi2 negatif pada tubuh anda, dgn menggunakan air putih yg sdh biasa kita minum sehari2 di treatment oleh Biodisc sbg media utk menyehatkan badan. Biodisc mengeluarkan racun/penyakit negatif yg ada pada tubuh anda dg hanya meminum.
sudah bayak sekali kesaksian2 dari pengguna biodsic & air treatment nya (beberapa kesaksian bahkan menyebutkan air yg sdh di treatment oleh biodisc efeknya lbh bagus drpada air hexagonal yg marak ada di pasaran). Mineral-mineral alami yang telah direkayasa teknis telah diikat terstruktur dalam gelas, pada tingkat molekular, dengan menggunakan beberapa metode fusi panas tinggi. Bagaimana membuat air berenergi menggunakan biodisc? utk efek energi yg instant alirkan air mengenai langsung ke biodisc ini
Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang diberi akal dan pikiran yang lebih dibanding makhluk hidup lain, tentu memanfaatkan kelebihannya untuk hal-hal yang menguntungkan. Contohnya di era globalisasi seperti saat ini, banyak ditemukan berbagai alternatif untuk mempermudah kehidupan kita. Hingga saat ini pun para ilmuwan-ilmuwan tersebut masih melakukan riset-riset serta eksperimen-eksperimen yang yang berguna bagi kita. Sampai sekarang pun masih berkembang di berbagai bidang kehidupan diantaranya di bidang pertanian, kesehatan, pendidikkan, transportasi komunikasi, budaya dan lain sebagainya. Dibawah ini adalah uraian tentang perkembangan tegnologi bidang kesehatan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumus masalah yang kami angkat adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan teknologi dibidang kesehatan?
2. Dampak teknologi dibidang kesehatan?
3. Perkembangan teknologi komputer dalam bidang kesehatan
C. Tujuan
1. Mendeskripsikan perkembangan teknologi kesehatan
2. Menjelaskan dampak teknologi kesehtan
3. Menjelaskan Perkembangan teknologi komputer dalam bidang kesehatan
A. Perkembangan teknologi dibidang kesehatan
Dewasa ini makin banyak penyakit yang ditemukan yang diakibatkan oleh bermacam sebab. Dari mulai yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya, contohnya kanker, penyakit yang langka ditemukan tapi malah justru sekarang banyak yang mengidapnya, contohnya flu babi, flu burung, Atresia Billier, hingga penyakit remeh-temeh tapi juga berbahaya, contohnya pilek, batuk dll. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang makin lama makin pesat ini, para penderita pun sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, kini mulai banyak cara alternatif yang bisa ditempuh atau setidaknya membantu mereka mencari solusi. Bahkan bukan hanya para pasien yang diuntungkan akan adanya perkembangan tegnologi, tetapi para doketr pun merasa sangat terbantu, karena kini banyak pula ditemukan alat kesehatan yang memudahkan dalam doktermendiaknosis penyakit para pasiennya. Dan alat-alat diantaranya:
1. Stetoskop
2. Tensemeter
3. Alat Chemotherapy
4. USG
5. Termometer
6. Alat (Ronsen)
Dahulu para dokter masih menggunakan sistem “perkiraan” dan belum bisa dipertanggungjawabkan kepastiannya. Namun, setelah membaca uraian di atas kita patut bersyukur akan apa yang telah ada saat ini. Kita juga patut berterima kasih atas apa yang dilakukan para ilmuwan tersebut hingga kita bisjadi seperti saat ini.
B. Dampak teknologi dibiddang kesehatan
Saat ini telah ditemukan teknologi kesehatan baru dari jerman, dengan ini menggunakan teknologi resonansi nano bagian terkecil dari atom BIODISC ditemukan oleh dr.ian lyons, dengan penelitian yang dilakukan selema 25 tahun belum memproduksi BIODISC dapat mengeluarkan energy- energi negatif pada tubuh anda, dengan menggunakan air putih yang sudah biasa kita minum sehari-sehari di treatment oleh BIODISC sebagai media untuk menyehatkan badan. BIODISC mengeluarkan racun/penyakit negatif yg ada pada tubuh anda dengan hanya meminum air yang sudah di treatment oleh BIODISC sudah bayak sekali kesaksian2 dari pengguna biodsic & air treatment nya (beberapa kesaksian bahkan menyebutkan air yg sudah di treatment oleh biodisc efeknya lbh bagus drpada air hexagonal yg marak ada di pasaran) bahkan efeknya akan sangat lsg dirasakan utk yg sakit asam urat,darah,tinggi,gula,stroke,batu,ginjal,maag,dll.
pembuatan biodisc: Mineral-mineral alami yang telah direkayasa teknis telah diikat terstruktur dalam gelas, pada tingkat molekular, dengan menggunakan beberapa metode fusi panas tinggi.(mechanic quantum) Kombinasi dari teknik-teknik ini menyebabkan sebuah konversi energi katalis yang menimbulkan resonansi Nano spesifik yang tahan lama.
Menyalurkan “Frekuensi Energisasi Nano” ke dalam atau melalui cairan mempengaruhi nano-nano di dalam cairan. Saat nano-nano mineral berinteraksi dengan frequensi tertentu..
Bagaimana membuat air berenergi menggunakan biodisc? utk efek energi yg instant alirkan air mengenai langsung ke biodisc ini. Letakkan segelas air di atas Bio Disc selama setengah jam atau lebih dan minumlah.
Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan yang diberi akal dan pikiran yang lebih dibanding makhluk hidup lain, tentu memanfaatkan kelebihannya untuk hal-hal yang menguntungkan. Contohnya di era globalisasi seperti saat ini, banyak ditemukan berbagai alternatif untuk mempermudah kehidupan kita. Hingga saat ini pun para ilmuwan-ilmuwan tersebut masih melakukan riset-riset serta eksperimen-eksperimen yang yang berguna bagi kita. Sampai sekarang pun masih berkembang di berbagai bidang kehidupan diantaranya di bidang pertanian, kesehatan, pendidikkan, transportasi komunikasi, budaya dan lain sebagainya. Dibawah ini adalah uraian tentang perkembangan tegnologi bidang kesehatan
C. Perkembangan teknologi komputer dalam bidang kesehatan
Perkembangan teknologi computer (informasi) yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi komputer relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasi komputer, rumah sakit rata-rata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi.
Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi komputer merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi dan komunikasi komputer saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru.
Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat.
Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru:
Ada juga Peranan TIK dalam bidang kesehatan seperti adanya sebuah sistem berbasis kartu cerdas (smart card) yang dapat digunakan oleh juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien. Selain itu, peranan TIK dalam bidang kesehatan dengan digunakannya robot untuk membantu proses operasi pembedahan dan penggunaan komputer hasil pencitraan tiga dimensi untuk menunjukkan letak tumor dalam tubuh pasien.
Comment :
Kita bayangkan jika kegiatan di Rumah sakit dilakukan secara manual, dari sistem pendekteksian keluhan penyakit pasien, sampai saat proses penyembuhan seperti operasi jika pasien di fonis penyakit kanker. Bagimana mungkin dengan tangan manusia secara langsung semua bisa sukses dengan baik, pasti kita membutuhkan alat atau fasilitas guna mempermudah proses pekerjaan seorang dokter, seperti pada saat pasien melakukan scan di tempat yang sakit pasti menggunakan kamputer sebagi sarana, dari sistem yang sudah dirancang dengan sangat canggih tersebut makan dapat terlihat hasil keluhan si pasien, entah jenis penyakitnya kanker/ tumor, pasti dari jenis penyakit tersebut seorang dokter tahu bagimana cara membantu pasiennya dalam meberikan obat yang tepat.
Pada proses Operasi biasanya detak jantung pasien terlihat di layar monitor, dari situ seoarang perawat dapat tahu apakah pasien tersebut detak jantungnya normal atau tidak, dan pada saat seorang pasien mengalami perubahan detak jantung pada layar dapat terlihat dengan jelas turun atau naik , mebahayakan atau tidak bagi kesehatan pasien tersebut.
Beberapa Rumah sakit juga mempunyai fasilitas alat-alat labolatorium yang di dalam

TUGAS 2

 PERKEMBANGAN OBAT ATAU VAKSIN DI INDONESA

                                PERKEMBANGAN OBAT ATAU FAKSIN DI INDONESIA
Pengembangan obat
Sejarah penggunaan obat
Pada mulanya penggunaan obat dilakukan  secara empirik dari tumbuhan, hanya
berdasarkan pengalaman dan  selanjutnya Paracelsus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa
untuk membuat sediaan obat   perlu pengetahuan kandungan zat  aktifnya dan dia
membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya. Hippocrates (459-370 SM)
yang dikenal dengan “bapak kedokteran” dalam praktek pengobatannya telah
menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan. Claudius Galen (200-129 SM)
menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang
ilmu farmakologi.  Selanjutnya Ibnu Sina (980-1037)  telah menulis beberapa buku
tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan
sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup dan menggabungkan pengetahuan pengobatan
dari berbagai negara yaitu Yunani, India, Persia, dan Arab untuk menghasilkan
pengobatan yang lebih baik. Johann Jakob  Wepfer (1620-1695) berhasil melakukan
verifikasi  efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan
:”I pondered at length, finally I resolved to clarify the matter by experiment”. Ia  adalah
orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan
percobaan.  Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang  sampai sekarang
merupakan persyaratan sebelum obat  diuji–coba  secara klinik pada manusia.
Institut Farmakologi pertama didirikan pada th 1847 oleh Rudolf Buchheim
(1820-1879) di Universitas Dorpat (Estonia). Selanjutnya Oswald Schiedeberg (1838-
1921) bersama dengan  pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam
kerja obat  meliputi reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas dan toksisitas
selektif. Konsep tersebut juga diperkuat oleh T. Frazer  (1852-1921) di Scotlandia, J.
Langley (1852-1925) di Inggris dan P. Ehrlich (1854-1915) di Jerman.
Sumber obat
Sampai akhir abad 19, obat merupakan  produk organik atau anorganik dari
tumbuhan yang dikeringkan atau segar, bahan hewan atau mineral  yang aktif dalam
penyembuhan penyakit tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu
tinggi atau pada kondisi tertentu penderita Untuk menjamin tersedianya obat agar tidak
tergantung kepada musim maka tumbuhan  obat diawetkan dengan pengeringan. Contoh
2tumbuhan yang dikeringkan pada saat itu adalah getah  Papaver somniferum  (opium
mentah) yang sering dikaitkan dengan obat penyebab ketergantungan dan ketagihan.
Dengan mengekstraksi getah tanaman tersebut dihasilkan berbagai senyawa yaitu morfin,
kodein, narkotin (noskapin), papaverin dll. yang ternyata memiliki efek yang berbeda satu
sama lain walaupun dari sumber yang sama  Dosis tumbuhan kering dalam pengobatan
ternyata sangat bervariasi tergantung pada tempat asal tumbuhan, waktu panen, kondisi
dan lama penyimpanan. Maka untuk menghindari variasi dosis, F.W.Sertuerner (1783-
1841) pada th 1804 mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah
dilakukan sintesis secara kimia. Sejak itu berkembang obat sintetik untuk berbagai jenis
penyakit.
Pengembangan obat baru
Pengembangan  bahan obat diawali dengan sintesis atau isolasi  dari berbagai
sumber yaitu dari tanaman (glikosida jantung untuk mengobati lemah jantung), jaringan
hewan (heparin untuk mencegah pembekuan darah), kultur mikroba (penisilin G sebagai
antibiotik pertama), urin manusia (choriogonadotropin) dan dengan teknik bioteknologi
dihasilkan  human insulin untuk menangani penyakit diabetes. Dengan  mempelajari
hubungan struktur obat dan aktivitasnya  maka pencarian zat baru lebih terarah dan
memunculkan ilmu baru yaitu kimia medisinal dan farmakologi molekular.
Setelah diperoleh bahan calon obat, maka  selanjutnya calon obat tersebut akan
melalui serangkaian uji yang memakan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit
sebelum diresmikan sebagai obat oleh Badan  pemberi izin. Biaya yang diperlukan dari
mulai isolasi atau sintesis senyawa kimia  sampai diperoleh obat baru lebih kurang US$
500 juta per obat. Uji yang harus ditempuh oleh calon obat adalah  uji praklinik dan uji
klinik.
Uji praklinik   merupakan persyaratan uji untuk calon obat, dari uji ini diperoleh
informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon
obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada
reseptor  dengan kultur sel terisolasi atau  organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu
menguji pada hewan utuh. Hewan  yang baku  digunakan adalah galur tertentu dari
mencit, tikus, kelinci, marmot, hamster,  anjing atau beberapa uji menggunakan primata,
hewan-hewan  ini sangat berjasa bagi pengembangan obat.  Hanya dengan menggunakan
3hewan utuh dapat diketahui apakah obat menimbulkan efek toksik  pada dosis pengobatan
atau aman.  
Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi :
• Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat  akut  atau  kronis
• Kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenisitas)
• Pertumbuhan tumor (onkogenisitas  atau karsinogenisitas)
• Kejadian  cacat  waktu lahir (teratogenisitas)
Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat
meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan
pada hewan menentukan apakah dapat diteruskan dengan uji pada manusia. Ahli
farmakologi bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam pembuatan formula obat,
menghasilkan bentuk-bentuk sediaan obat  yang akan diuji pada manusia.  
Di samping uji pada hewan, untuk  mengurangi penggunaan hewan percobaan
telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro untuk menentukan khasiat obat contohnya
uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan  cell line, uji anti mikroba pada
perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi  dan lain-lain  untuk menggantikan
uji khasiat  pada hewan tetapi belum semua uji dapat dilakukan secara  in vitro. Uji  
toksisitas sampai saat ini masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum ada metode
lain yang menjamin hasil yang menggambarkan toksisitas pada manusia, untuk masa
yang akan datang perlu dikembangkan uji toksisitas secara in vitro.
Setelah calon obat dinyatakan mempunyai kemanfaatan dan aman pada hewan percobaan
maka  selanjutnya diuji pada manusia (uji klinik). Uji pada manusia harus diteliti dulu
kelayakannya oleh komite etik mengikuti Deklarasi Helsinki.
Uji klinik terdiri dari  4  fase yaitu :
1. Fase  I , calon obat diuji pada sukarelawan sehat untuk mengetahui apakah sifat
yang diamati pada hewan percobaan juga  terlihat pada manusia. Pada fase ini
ditentukan hubungan dosis dengan efek yang ditimbulkannya dan profil
farmakokinetik obat  pada manusia.
2. Fase  II, calon obat diuji pada pasien tertentu, diamati efikasi pada penyakit yang
diobati. Yang diharapkan dari obat adalah mempunyai efek yang potensial dengan
4efek samping rendah  atau tidak toksik. Pada fase ini mulai dilakukan
pengembangan dan uji stabilitas bentuk sediaan obat.
3. Fase III  melibatkan kelompok besar pasien, di sini obat baru dibandingkan efek
dan keamanannya terhadap obat pembanding yang sudah diketahui.  
Selama uji klinik banyak senyawa calon obat dinyatakan tidak dapat digunakan.
Akhirnya obat baru hanya lolos 1 dari lebih kurang 10.000 senyawa yang disintesis
karena  risikonya lebih besar dari manfaatnya atau kemanfaatannya lebih kecil dari
obat yang sudah ada.  Keputusan untuk mengakui obat baru dilakukan oleh badan
pengatur nasional, di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, di Amerika
Serikat oleh FDA (Food and Drug Administration),  di Kanada oleh Health Canada, di
Inggris oleh MHRA (Medicine and Healthcare Product Regulatory Agency), di negara
Eropah lain oleh EMEA ( European Agency for the Evaluation of  Medicinal Product)
dan di  Australia  oleh TGA (Therapeutics Good Administration).
Untuk dapat dinilai oleh badan tersebut,  industri  pengusul harus menyerahkan data
dokumen uji praklinik dan klinik yang sesuai dengan indikasi yang diajukan, efikasi
dan keamanannya harus sudah ditentukan dari bentuk produknya (tablet, kapsul dll.)
yang telah memenuhi persyaratan produk melalui kontrol  kualitas.  
Pengembangan obat tidak terbatas pada pembuatan produk dengan zat baru, tetapi
dapat juga dengan memodifikasi bentuk sediaan obat yang sudah ada  atau meneliti
indikasi baru sebagai tambahan dari indikasi yang sudah ada. Baik  bentuk sediaan
baru maupun tambahan indikasi atau perubahan dosis dalam sediaan   harus
didaftarkan ke Badan  POM dan dinilai oleh Komisi Nasional Penilai Obat Jadi.
Pengembangan  ilmu teknologi farmasi dan biofarmasi melahirkan new drug delivery
system terutama bentuk sediaan seperti tablet lepas lambat, sediaan liposom, tablet
salut enterik, mikroenkapsulasi dll. Kemajuan dalam teknik rekombinasi DNA, kultur
sel dan kultur jaringan telah memicu kemajuan dalam produksi bahan baku obat seperti
produksi insulin dll.
Setelah calon obat dapat dibuktikan  berkhasiat sekurang-kurangnya sama dengan obat
yang sudah ada dan menunjukkan keamanan bagi si pemakai maka  obat baru diizinkan
untuk diproduksi oleh industri  sebagai  legal drug dan  dipasarkan dengan nama
dagang tertentu serta  dapat diresepkan oleh dokter.
54. Fase IV, setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran (post
marketing surveillance) yang diamati pada  pasien dengan berbagai kondisi,
berbagai usia dan ras,  studi ini dilakukan dalam jangka waktu lama untuk melihat
nilai terapeutik dan pengalaman jangka panjang dalam menggunakan obat. Setelah
hasil studi fase IV dievaluasi  masih memungkinkan obat ditarik dari perdagangan
jika membahayakan sebagai contoh cerivastatin suatu obat antihiperkolesterolemia
yang dapat merusak ginjal, Entero-vioform (kliokuinol) suatu  obat antidisentri
amuba yang pada orang Jepang menyebabkan kelumpuhan pada otot mata (SMON
disease), fenil propanol amin yang sering terdapat pada obat  flu harus diturunkan
dosisnya dari 25 mg menjadi tidak lebih dari 15 mg karena dapat meningkatkan
tekanan darah dan  kontraksi jantung yang membahayakan pada pasien yang
sebelumnya sudah mengidap penyakit jantung atau tekanan darah tinggi ,  talidomid
dinyatakan tidak aman untuk wanita hamil karena dapat menyebabkan kecacatan
pada janin, troglitazon suatu  obat antidiabetes di Amerika Serikat ditarik karena
merusak hati .
Obat Herbal dan Fitofarmaka
. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, memiliki lebih
kurang 30.000  spesies tumbuhan dan   940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan
berkhasiat (180 spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional) merupakan
potensi pasar obat herbal dan fitofarmaka. Penggunaan bahan alam sebagai obat
tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang
lalu terbukti dari adanya  naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali),
Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan
Boreh Wulang nDalem  dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang
meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya. Obat herbal telah diterima
secara luas di negara berkembang dan di negara maju.  Menurut WHO (Badan Kesehatan
Dunia) hingga 65% dari penduduk negara  maju  dan 80 %  dari penduduk negara
berkembang  telah menggunakan obat herbal.  Faktor pendorong terjadinya peningkatan
penggunaan obat herbal di negara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang
pada saat prevalensi penyakit kronik  meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat
modern untuk penyakit tertentu  di antaranya kanker  serta semakin luas akses informasi
6mengenai obat herbal di seluruh dunia. Pada th 2000 diperkirakan penjualan obat herbal
di dunia  mencapai US$ 60 milyar.
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan  penyakit, terutama
untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukkan dukungan
WHO untuk  back to nature yang dalam hal tertentu lebih menguntungkan. Untuk
meningkatkan keselektifan pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal
tanaman  terhadap efek, serta lebih memudahkan dalam standardisasi bahan obat  maka
zat aktif diekstraksi lalu dibuat sediaan fitofarmaka atau bahkan dimurnikan sampai
diperoleh zat murni     Di Indonesia, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan industri obat
tradisional, menurut data dari Badan  Pengawas Obat dan Makanan sampai th 2002
terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha industri yang terdiri dari
105 industri berskala besar dan 907 industri  berskala kecil. Karena banyaknya variasi
sediaan bahan alam maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan maka Badan
POM mengelompokkan dalam sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan sediaan
fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda yaitu untuk jamu pemakaiannya secara
empirik berdasarkan pengalaman, sediaan  herbal terstandar bahan bakunya harus
distandardisasi dan sudah diuji farmakologi secara eksperimental sedangkan sediaan
fitofarmaka sama dengan obat modern bahan bakunya harus distandardisasi dan harus
melalui uji klinik.  
Dalam upaya peningkatan pemanfaatan  bahan alam Indonesia yang terjamin
keamanannya, Badan POM bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi termasuk ITB
sedang meneliti 9 tanaman obat unggulan nasional sampai ke uji klinis. Tanaman tersebut
adalah salam, sambiloto, kunyit, jahe merah,  jati belanda, temulawak, jambu biji, cabe
Jawa dan mengkudu.   
Dengan melihat jumlah tanaman di Indonesia yang berlimpah dan baru 180
tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri maka peluang bagi
profesi kefarmasian untuk meningkatkan peran sediaan herbal dalam pembangunan
kesehatan masih terbuka lebar. Standardisasi bahan baku dan obat jadi, pembuktian efek
farmakologi dan informasi tingkat keamanan obat herbal merupakan tantangan bagi
farmasis agar obat herbal semakin dapat diterima oleh masyarakat luas.
 
7Kosmetik dan Kosmeseutikal
Menurut the Food, Drug and cosmetic  Act (FD&C Act) penggunaan kosmetik
lebih ditujukan untuk membersihkan, meningkatkan kecantikan atau meningkatkan daya
tarik dan mengubah penampilan bukan untuk menangani penyakit kulit. Berdasarkan
batasan di atas yang  termasuk kosmetik adalah pelembab kulit, parfum, lipstick, cat
kuku, makeup mata dan muka, shampo, cat  rambut, sediaan cairan pengkriting, pasta gigi
dan deodoran. The FD&C Act mengelompokkan obat, kosmetik atau kombinasi
kosmetik dan obat.  Di industri kosmetik dikenal  kosmeseutikal  yaitu istilah untuk
produk kosmetik  yang mengandung zat aktif  yang bertindak sebagai obat
(pharmaceutical)  contohnya anti-wrinkle creams, baldness treatment, antiperspirant dan
sunscreens. Pengelompokan kosmetik dan kosmeseutical sering menyulitkan bagi badan
regulator seperti American Food and Drug  Administration, sebagai contoh deodoran
dapat dikelompokkan ke dalam kosmetik tetapi jika dinyatakan sebagai antiprespirant
dikelompokkan sebagai obat  karena dapat menciutkan pori pada kulit.  Kosmetik
tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI  sebagai sediaan atau panduan bahan
yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan
organ kelamin luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik,
mengubah penampakan melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau
badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit.
Sediaan kosmetik harus memenuhi persyaratan keamanan yaitu tidak
menyebabkan iritasi dan alergi. Pada th  1994 FDA menerima lebih kurang 200 laporan
tentang efek samping kosmetik yang umumnya berupa alergi dan iritasi.
Pemakaian kosmetik dan kosmeseutikal diperkirakan akan meningkat tajam akibat
pergeseran  budaya rural menuju urban dan  peningkatan taraf hidup masyarakat, hal ini
merupakan tantangan bagi dunia farmasi untuk meningkatkan perannya dalam
menghasilkan produk dengan formula yang lebih baik, lebih aman dan mudah digunakan.
Nutrisi dan Nutraseutikal  
Produk nutrisi dapat digunakan sebagai  obat pada kondisi kekurangan gizi
(malnutrisi, malgizi).  Produk   nutrisi dapat berupa nutrisi parenteral untuk pasien yang
dirawat di rumah sakit dan nutrisi enteral yang dikenal  pula sebagai food suplemen
(vitamin, mineral,  asam amino dll.).  
8Malnutrisi dapat juga terjadi akibat  penyakit kronis ( gagal ginjal, gagal jantung,
obstruksi paru-paru, gagal jantung kongestif, diabetes), penyakit gastrointestinal (penyakit
tukak lambung, inflamasi saluran cerna, pankreatitis), faktor sosial ( ketagihan alkohol
atau obat) dan status metabolisme abnormal (kanker, sepsis, luka trauma atau gangguan
suhu tubuh) Penanganan pasien dengan pemberian nutrisi adalah  untuk meningkatkan
status nutrisi, meningkatkan daya tahan tubuh  dan  meningkatkan kualitas hidup pasien..
Masyarakat sering menggunakan produk nutrisi untuk mengobati penyakit,
kombinasi nutrisi dan efek pengobatan melahirkan istilah baru yang dikenal dengan
nutraceutical.  Nutraseutikal yang dikenal juga sebagai  phytochemicals,  medical foods,  
functional food, pharmafoods  dan  nutritional supplement,   diartikan sebagai bahan alam
dalam keadaan murni atau pekat,  atau senyawa kimia bioaktif yang mempunyai efek
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit atau mengobati penyakit. Contoh
nutraseutikal adalah beta karoten untuk  mencegah serangan jantung, glukosamin untuk
menangani osteoartritis dll. Tidak hanya malnutrisi yang merupakan masalah tetapi
kegemukan (obesitas) pun merupakan  faktor timbulnya penyakit lain yang juga perlu
ditangani dengan baik.
Kecenderungan masyarakat yang lebih memilih nutrisi untuk mencegah dan
mengobati penyakit daripada memilih obat   merupakan peluang bagi farmasis untuk
berkontribusi dalam produksi berbagai sediaan  nutrisi, suplemen makanan  dan
nutraceutical dengan komposisi sesuai dengan kebutuhan dan aman.   
Medical devices
Kemajuan di bidang teknologi instrumen dan reagensia mendukung sains
laboratorium klinik. Interaksi sinergis   antara bidang ilmu biomedik, farmasi dan
bioteknologi telah melahirkan peluang-peluang dalam menciptakan metode baru bidang
sains laboratorium klinik. Pengetahuan penggunaan peralatan medis dan diagnostik
laboratorium  merupakan modal untuk kemajuan laboratorium kesehatan dan memerlukan
sumberdaya manusia yang kompeten.
Karakteristik dan penampilan peralatan medis dan reagensia laboratorium
diagnostik harus didesain  dan diproduksi menurut persyaratan yang ditetapkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di  suatu negara. Perlindungan
masyarakat terhadap hal yang dapat merugikan kesehatan dan kehidupan manusia akibat
penggunaan alat-alat kesehatan (medical devices) dan perbekalan kesehatan rumah tangga
9(medical households) merupakan kewenangan, tugas dan fungsi Departemen Kesehatan.
Untuk keperluan tersebut diselenggarakan  pendaftaran, penilaian dan pemberian izin
sebelum alat kesehatan diperdagangkan di wilayah negara atau diekspor ke negara lain.
Alat kesehatan adalah bahan, instrumen, mesin, implan yang tidak mengandung
obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan
penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia  dan/atau
membentuk struktur  dan memperbaiki fungsi tubuh. Perbekalan kesehatan rumah tangga
adalah alat, bahan atau campuran untuk pemeliharaan dan perawatan kesehatan untuk
manusia, hewan peliharaan rumah tangga dan tempat-tempat  umum.
Dalam upaya memfasilitasi proses transfer teknologi di bidang peralatan medis
dan regensia diagnostik, pemerintah memberikan pembinaan untuk tujuan pengembangan
produksi dan penelitian inovatif  bagi produsen dalam negeri.  Proses transfer teknologi
dapat difasilitasi dengan memberikan peluang kepada produsen untuk menjalin kerjasama
dengan produsen di negeri maju, misalnya dengan cara pelatihan ataupun magang, di
samping pemberian insentif kerjasama penelitian, misalnya dengan fasilitas perolehan
HaKI (Intelectual property right).
Untuk memberikan jaminan mutu produk yang beredar di masyarakat, pemerintah
melaksanakan penyelidikan pasca pasar atau pengambilan sampel untuk pengujian produk
yang beredar. Di samping itu, produsen perlu menerbitkan pedoman kajian dan petunjuk
pengujian yang dapat dilaksanakan di laboratorium pengujian mutu atau secara langsung
oleh pemakai.
   
Perkembangan Bidang Kefarmasian
Pelayanan kefarmasian saat ini telah semakin berkembang selain berorientasi
kepada produk  (product oriented) juga berorientasi kepada pasien  (patient oriented)
seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan
pergeseran budaya rural menuju urban yang menyebabkan peningkatan dalam konsumsi
obat terutama obat bebas, kosmetik, kosmeseutikal, health food, nutraseutikal dan obat
herbal.  
Berbagai tuntutan yang ada di masyarakat  menjadi tantangan untuk
pengembangan dunia kefarmasian seperti :  Pharmaceutical care yaitu obat sampai
ketangan pasien dalam keadaan baik, efektif dan aman disertai informasi yang jelas
sehingga penggunaannya tepat dan mencapai kesembuhan;  timbulnya penyakit baru
10dan perubahan pola penyakit yang memerlukan pencarian  obat baru atau obat yang
lebih unggul ditinjau dari efektivitas dan keamanannya; meningkatnya penyalagunaan
obat dan ketergantungan pada narkoba dan psikotropika  merupakan tuntutan untuk
dapat mengawasi penggunaan obat tersebut, mencari/mensintesis obat yang lebih aman
dan mampu memberikan informasi tentang bahaya penyalahgunaan obat;  farmasis
sebagai partner dokter memacu farmasis untuk menguasai lebih mendalam ilmu
farmakologi klinis dan farmakoterapi serta ilmu farmasi sosial dan komunikasi; farmasis
sebagai penanggung jawab pengadaan obat  di apotek, rumah sakit, pedagang besar
farmasi, puskesmas dll. harus menguasai farmakoekonomi dan manajemen farmasi;
tuntutan farmasis untuk dapat berperan  dalam perkembangan industri Farmasi
perkembangan drug delivery system, pengembangan cara produksi dan metode control
kualitas; farmasis untuk menempati bidang pemerintahan  yang berfungsi dalam
perizinan, pengaturan, pengawasan, pengujian, pemeriksaan dan pembinaan;
perkembangan farmasi veteriner, perkembangan  medical devices (alat kesehatan,
pereaksi diagnostik).
Untuk dapat mengakomodasi semua tuntutan tersebut diperlukan sistem
pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan tenaga  farmasi  dengan bekal ilmu
pengetahuan keprofesian yang mutakhir.
Jumlah farmasis di Indonesia saat ini masih kurang dari 10.000 sehingga rasio
terhadap penduduk Indonesia lebih kurang 1:20.000,  sedangkan di negara lain rasionya
jauh lebih kecil,   Jepang (1:660),  Thailand (1:1.000), Perancis (1:1.300), Amerika
Serikat (1:1.430), Australia (1:1.700) dan Cina (1:5.000).  Farmasis di Thailand proaktif
memberikan informasi obat dari rumah ke rumah (family pharmacist), untuk aktivitas
seperti ini diperlukan jumlah tenaga farmasis yang cukup.
Kesimpulan :
1. Untuk memperoleh obat yang efektif dan aman harus melalui serangkaian uji
praklinik dan klinik yang memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang mahal
2. Melimpahnya sumber daya alam Indonesia dan pengalaman penggunaannya dalam
menangani berbagai penyakit perlu  dioptimalkan penggunaan obat herbal (back to
nature)
3. Perlu pemantauan berbagai produk yang  berkembang meliputi obat sintetik, obat
herbal, nutraseutikal, kosmeseutikal, alat kesehatan, pereaksi diagnostik, dll
114. Jumlah tenaga farmasis di Indonesia masih sangat kurang untuk menempati berbagai
tempat pengabdian profesi farmasi.
5. Diperlukan sistem pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan tenaga farmasi
dengan bekal ilmu pengetahuan keprofesian yang mutahir
6. Sudah saatnya membentuk Fakultas Farmasi dan Teknologi Kesehatan
Penutup
Semua tantangan untuk pengembangan dunia kefarmasian tersebut disambut baik oleh
ITB untuk membentuk  Fakultas Farmasi dan Teknologi Kesehatan dengan tiga
program studi yang diusulkan yaitu  Program Studi Teknologi Farmasi  yang
penekanannya pada bidang produksi bahan  baku dan sediaan (“product oriented”),
Program Studi Farmasi klinis dan Komunitas yang penekanannya pada kepentingan
pasien (“patient  oriented”) dan  Program Studi Teknologi Kesehatan yang lingkup
pengetahuan dapat diperankan pada  pemantauan presisi peralatan laboratorium,
penyediaan reagen diagnostik, mengontrol ketepatan hasil uji klinis dan cara penggunaan
alat kesehatan. Bidang teknologi kesehatan  belum mendapat perhatian khusus  sehingga
merupakan peluang bagi pengembangan bidang Farmasi sedangkan  dua program studi
lainnya  merupakan program yang lebih  terarah dari program yang sekarang sedang
berjalan.  Insya Allah dalam waktu dekat akan terbentuk Fakultas Farmasi dan Teknologi
Kesehatan dengan tiga program studi seperti disebutkan di atas yang dapat menampung
mahasiswa lebih banyak dan menghasilkan lulusan yang kompeten dalam mengisi bidang
profesi kefarmasian yang lebih terspesialisasi.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas perhatian para hadirin yang telah
mengikuti penyampaian makalah saya sampai  akhir. Tidak lupa saya ucapkan terima
kasih kepada  Rektor ITB, Dekan FMIPA,  Ketua  dan Sekretaris Departemen Farmasi
ITB serta staf pengajar yang telah membantu memberikan masukan untuk tulisan ini dan
pembuatan foto serta gambar yang ditampilkan.